Total Tayangan Halaman

Senin, 31 Oktober 2011

kemarin Hidayah Menghampiriku

                    kemarin hidayah datang
tapi aku sedang tidak ada di tempat
aku sedang bercumbu
        bercinta
    membuat beberapa dosa
aku tidak jadi taubat seketika


kemarin..
hidayah nur Ilahi menghampiri
tapi aku sedang berada di daerah kos kosan di pinggiran universitas kondang jogja
di bulan puasa,
        siang bolong,
    aku tengah berciuman dengan kafir
hidayah mutung, marah, mulih, tidak mau kembali


HIDAYAH!!

    datang lagi dong
    hari ini aku di rumah kok
    aku sudah terima pesanmu
    yang kamu titipkan pada ibuku

HIDAYAH!!

    sini...
    datanglah kau kepadaku
        biar besok mati
        aku masuk surga

ini hari jumat
bukannya jumatan..
aku malah berzina, hahaha
aku tidak puasa loh

kamu
pasti
emosi

takdir juga sih yang milihin cewek itu

coba,

takdir datangkan gadis yang seperti putri nabi Muhammad yang namanya siapa itu? patimah?
pasti

    aku mati gaya

NASIB GOBLOK

    sia yang saalah kalau begitu?


  

kakiku di kepalamu, kepalaku mana?

kepala                 punya                    ku
    pundak            punya                ku
        lutut            punya            ku
            kaki        punya        ku
                       di atas
            kepala     milik        mu
        pundak         milik            mu
    lutut                milik                mu
kaki                     milik                    mu


                kepalaku
            terombang- ambing
                    pundakku
                bergetar
                    lututku
        lemas tak berdaya
        kakiku
                    mati rasa


diatas                sensasi            maksimal

                kepalamu
            cemerlang
                    pundakmu
                merangsang
                    lututmu
        menantang
        kakimu
                    memaksaku menggelinjang

merangka, merintih, tertawa, panuan

aku menjerit!
sejumput jarum menancap telak pada pupil mata
menunanetrakan aku, jadikanku gelap
meringkusku, menyekapku, merantai masa depanku
memaksaku jadikanmu yang terlihat terahir ku


aku ingin mengumpat selain ASU, apa ya?
soalnya kamu menjinakkanku
mencencangku dengan pilinan pilinan rambut berkarat indahmu di leherku
aku jadi terpaksa menjadi budakmu ini lho..

sudah sudah..
kamu jiga sudah tahu kan?
akuterjajah olehmu

sudah sudah..
kamu pasti sudah tahu, aku yakin itu
aku sudah tunduk takluk teklak tekluk padamu

sudah...
sudaaah...
sudah dong ah...
gelii...

terhuyung huyung aku mencoba mengangkat sendal yang kau gunakan untuk menginjakku
tapi kamu kesandung pun tak tampak
kamu bagiku hittler betina dari negari dimana syuting kera sakti yang booming dinegara pulau kelapa tombak bambu
aku kalah dalam adu kukuh dengan kamu


sik sik tunggu dulu..
jangan dikira aku gak bisa liar..
lihat mata kosongku rambut acakku..
aku sudah gila karna terlalu tergila gila olehmu
sifat sinis nyebaimu justru membuat buah H.A.T.I di pohon asmara ku jatuh tepat di jidatmu
Hasrat
    Asmara
        Tujuan
            Iman

khawatirlah.. siagakan hatimu
kamu perlu siapkan p3k lengkap dengan ambulans dimana dokter bedah hati berjaga di dalamnya
karena aku ini pantang menyerah untuk urusan cinta
percaya deh,

jangan dikira aku gak tahu
jangan dikira aku tertipu

aku tahu!
keras hatimu palsu
aku tahu!
isi hatimu itu lunak seperti lencung
tapi kamu tidak tahu..
aku yang menipu
aku yang sengaja ngalah sama kamu
aku yang sengaja menyerahkan diri menjadi budakmu untuk obsesiku

belum... belum...
kamu belum tahu,
ya!
    kamu
belum
    tahu!!!
cihuy!!

suara- suara//janda-janda (cerpen pertama men, elik)

Ny. Ngadiyem Joyosukarno (R.I.P, fannaly)

              Aku kembali terbangun malam ini, untuk kesekian kalinya, suara- suara bising memancing rasa ingin tahuku untuk mengintip melalui jendela ruang tamu rumah orang tuaku.  Gelap, aku memicingkan mata, memang tidak ada apa- apa. Aku mencoba mendengar suara- suara bising tersebut untuk mengetahui apa yang sedang berlangsung di salah satu Rumah di daerah lereng gunung sempu, tepat di seberang jalan. Suara wanita tua, seperti malam- malam sebelumnya, merengek- rengek dengan teriakan lemah meminta petugas ronda untuk membukakan pintu. "wong rondha, ngakke lawang…!" berkali- kali kalimat itu yang terdengar. Sayup- sayup suara wanita lain dengan nada tegas menyuruh pemilik suara tua tersebut untuk tidak berisik dan kembali tidur. Terdengar suara wanita tua tersebut semakin menjadi- jadi. Dia mulai menjerit, mengaduh, merintih dan dari suaranya yang tersendat- sendat aku menyimpulkan bahwa si wanita tua itu mulai menangis. 

             Ny. Ngadiyem Joyosukarno, janda dari Alm. Gidin Joyosukarno. Lebih familiar dipanggil Mbah Joyo, anak sulung dari Alm. Paidi Harjopawiro, seorang jagabaya di kampung halamanku dengan Alm. Painem, pasangan yang juga telah melahirkan Alm. Ayah dari ibuku, Sarju Gitosudarjo.  Sebagai orang yang bisa dibilang cucu, hanya itu yang bisa ku ketahui dari masalalu beliau, itupun aku tahu dari bagan silsilah keluarga yang kebetulan aku temukan di tumpukan barang tidak terpakai di gudang kediaman nenekku. Ketika aku masih duduk di bangku taman kanak- kanak, hampir setiap hari aku bermain di halaman luas bagian dari rumah beliau bersama cucu- cucu yang lain, kami memanjat pohon jambu mete, berkejar- kejaran, dan sebagainnya . Ketika itu, yang aku tahu beliau sudah tidak bersuami, untuk mengisi masa tuanya, Mbah Joyo menyibukkan diri dengan membungkusi kacang- kacang kedelai guna dijadikan tempe di dapur tua belakang rumah yang dia diami bersama anak cucunya. Tak jarang, aku masuk ke dapur rumahnnya untuk meminta sebungkus kecil krecek, istilah untuk kedelai calon tempe yang belum mengeluarkan jamur. Pembawaannya yang ramah, membuat aku, dan teman- teman yang lain menyayangi beliau, ketika itu. Mbah Joyo lah pemilik rumah yang berada di selatan gang Ramawijayan, menghadap persis rumah dimana aku tinggal. Sesekali, ketika tempe- tempe beliau selesai produksi dan siap jual, Mbah Joyo biasanya akan menyisihkan satu kantong besar tempe mentah untuk keluargaku, entah beliau antarkan sendiri atau menyuruh seseorang untuk mengantarkan ke rumahku. 

          Di teras rumahku, terdapat semacam rumah kecil berdinding anyaman bambu dimana Alm. Kakekku menampung seorang janda tua yang tidak memiliki keturunan. Ny. Mangun Dikromo, orang yang mengasuh ibuku ketika masih kecil, hingga ibuku menikah  dan memiliki anak, giliran aku dan kedua kakakku yang diasuhnya. Biji dari jambu mete yang berhasil aku kumpulkan dari pekarangan Mbah Joyo ku bawa ke gubug mbah mangun dan meminta beliau untuk menggorengnya.

            Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh dewasa dan mulai melupakan pekarangan tempat aku bermain dulu, pohon jambu mete tanpa ku sadari telah lenyap dari pekarangan tersebut. Rumah tua bermodel joglo pun telah direnovasi  setelah hancur karena gempa tektonik beberapa tahun silam.  Beberapa kali  aku mendengar  kabar bahwa Mbah Joyo terpeleset dan tulangnya retak  sehinnga harus di rapikan dengan platina dan sejak itu beliau tidak mampu membuat tempe lagi, kepikunan mulai melandanya. Mbah Mangun yang dulu membuka warung bubur pun kini hanya menghabiskan sisa usianya dengan rutinitas yang tidak pernah berubah. Bangun pada dini hari, menyapu pekarangan rumahku yang beliau anggap nglemeske awak, lalu hanya duduk di depan gubugnya pada sebuah kursi panjang yang sengaja dibelinya dari penjaja yang kebetulan lewat. Memperhatikan jalanan yang tidak terlalu ramai, menyapa anak- anak sekolah dasar yang pulang sekolah dengan ramah, hingga ketika adzan maghrib dikumandangkan,  wanita tua berbadan gemuk itu dengan terseok- seok berjalan memasuki rumahnya dan menyalakan radio tua yang setia menemaninnya. Setiap pagi, Ibuku atau tetangga yang lain mengantarkan makanan untuk beliau, sambil berbasa- basi sebentar untuk menggembirakan hati manula yang kesepian tersebut.

             Tidak hanya sekali ketika aku hendak berpergian, aku melihat Mbah Joyo bertelanjang dada dan hanya mengenakan jarik untuk menutupi kemaluannya. "Sudah sepikun inikah nenek tua itu? Atau sebenarnya beliau sudah tidak waras?" tanyaku dalam hati tanpa mengharapkan jawab.

             Sampai suatu ketika, Mbah Joyo menjadi kerap menghampiri Mbah Mangun dan Marah- Marah dengan alasan yang tidak jelas, Mbah Mangun yang merasa bahwa Mbah Joyo adalah keturunan orang penting hanya bisa mengalah dan hanya bisa menunggu anak cucu dari janda pikun itu menuntun pulang orang itu. Pernah suatu hari Mbah Mangun yang sudah tidak bisa menahan amarah berteriak dengan tegas kepada Mbah Joyo, entah apa yang dikatakannya. Ketika aku sudah berada di tempatkejadian perkara, yang tersisa hanya para tetangga mencoba menenangkan Mbah Mangun dari tangisnya dan Mbah Joyo yang berteriak "Tai! Tai! Tai!" dari seberang jalan karena dia sudah di tarik oleh Budhe Ati, anaknya. Menurut cerita Mbok Win, Mbah Joyo menarik- narik pintu gubuk Mbah Mangun yang ketika itu terkunci, sehingga engsel berkarat pintu tersebut rusak.

              Aku mulai menduga- duga penyebab perubahan sikap Mbah Joyo yang dulu sangat manis dan ramah menjadi sesosok wanita yang kasar dan pemarah. Senyum tulusnya telah lenyap bersamaan dengan habisnnya gigi beliau. Mungkin karena kesepian, mungkin karena renovasi rumah membuatnya merasa asing. Sesekali aku menyempatkan diri duduk santai di teras rumah mencari inspirasi, dan yang tertangkap oleh mataku justru wanita renta tersebut. Kulitnya telah kendor karena daging yang ditutupi telah lenyap. ketika ku lihat beliau bertelanjang dada, tampak jelas payudaranya terjuntai tanpa isi, tulang rusuknya terlihat dengat sangat jelas. Kadang aku berfikir, "kok ya masih hidup ya?" aku memprediksi usiannya, sudah menembus 100 tahun mungkin. Luar biasa, mengingat kondisi fisik dan mentalnya tersebut.

          tahun lalu, ketika aku belum ada satu jam membuka pintu toko mainan dimana aku sempat bekerja paruh waktu, ponselku berbunyi. Ku lihat siapa yang menelfonku, Yudha, tetangga yang sudah bersahabat denganku semenjak kami masih belum mengenal bangku taman kanak- kanak.
Ku angkat telfonku,
      
     "piye mbel? Ada apa?" aku menyapa dia seperti itu, karena memang dia di juluki gembel diantara teman- teman yang lain karena dia ingin sesekali hidup menjadi gembel di luar kota sesekali.
"lagi neng ndi wit?"
"makaryo, piye to?
"anu wit, ngene lho," yudha memulai pembicaraan serius.
"pie ono opo kok njanur gunung?" tanyaku tak sabar
"iso mulih saiki ra? Mbah mangun ki sedha je"
          
aku terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang baru saja sahabatku itu katakan. Kalau tidak salah tangkap, temanku ini baru saja memberi informasi bahwa Mbah Mangun, janda tua yang kesepian itu meninggal, nenek yang ramah itu telah berpulang, pengasuhku ketika aku belum bisa mengguyur kotoranku dulu telah mati.

"wit?"

      Yudha menyadarkanku dari lamunan. Aku tidak salah dengar, Ny. Mangun Dikromo telah lulus dari ujian dunia ini dan dengan sah menyandang gelar Almarhummah. Beliau telah memenuhi syarat terahir untuk diserahi sertifikat berupa batu nisan yang telah dianggap sah. Beliau memang benar telah menyusul suaminnya ke akherat. Yudha menyudahi telefonnya. Aku segera menelfon Himawan, orang yang memperkerjakan aku di toko tersebut. Aku meminta libur hari itu juga. Ku tutup toko, dan aku pulang.

*****************************

           "wong rondha, ngakke lawang…!" Kembali mbah Joyo berteriak- teriak, nampaknya dia benar- benar ingin keluar dari rumah tersebut, mencari kebebasan, mencari suasana baru, meningalkan dunia yang telah melupakannya, mencari-cari orang yang dulu patuh dan setia kepadanya. Aku menutup jendela dan menyudahi kegiatanku mengintip kegaduhan tengah malam itu. "Sinting." pikirku dalam hati, dan aku kembali melanjutkan tidurku.

             

Mengintip celana dalam bidadari

halo, apa itu yang di langit?
seakan iklan minuman soda,
berjuta inspirasi ambyur kedalam kepala
         luar biasa

bukanya mesum, bukan bukan, bukan bermaksud untuk mesum
pertama kutatap tanpa unsur kesengajaan
dan ini masih yang pertama, percaya saja
hanya saja secara tidak bersahaja tentu saja
aku mengerahkan segala rasa penuh tipu daya untuk bertahan tidak berkedip


yang di langit..
bukan yang di langit langit
bukan pula yang semangit

yang di langit
tepat persis di atas kepalaku
memaksaku untuk menahan rasa pegal karna bertahan untuk tetap tengadah
berwarna merah maroon
membuatku ternganga tak percaya karena diluar hipotesa saya
karena
asal kalian tahu
bahwa di surga sana
bidadari pun
                                      memakai celana dalam
aku bisa tahu
karna posisi yang menguntungkanku
aku berdiri tepat dibawah rok mini bidadari jelita

            luar biasa
fantasiku kemana- mana
imajinasiku tak tertata
keindahan yang takterkata
seakan aku merasa
diberi sedikit gambaran..

seperti apa itu surga

Tuhan, jatuhkanlah dari langit sebongkah daging lengkap dengan semua lalapnya


    LAPAR!
        Pria pria gembel menjerit meminta tuhan memberi mereka sebongkah daging panggang lengkap dengan segala lalapannya jatuh dari langit.
betapa cerdasnya mereka menganggap tuhan mau mendengar doa mereka yang membiarkan anak- anak mereka dibeli untuk diperas tenaganya.
    mereka bahkan tidak sempat untuk iri kepada orang orang gembrot yang menimbun kekayaan di perutnya.
    yang membekali anak anak mereka dengan seperempat dari kekayaan negara.
para lacur tak ambil pusing dari itu,
    selama pria pria gemuk masih membutuhkan mereka,
tidak susah meninggalkan suami mereka yang gembel yang telah menjual anak mereka.
        anak anak mereka yang telah laku enggan berfikir.
    untuk apa sekolah, aku lahir untuk mengamen, kutepukkan tanganku, kenyanglah aku,
                            tak jauh bereda dengan raja raja
    tak sama dengan anak anak konglomerat yang dikekang dan dijejali dengan ilmu ilmu bimbingan belajar
    mereka frustasi dan lari menghampiri daun daun nikmat dari surga
        ah.. ada anak kecil menangis, berakting agar para dermawan mau memberi mereka makan,
    ANDAI bocah kecil yang menangis itu mau memberi sertifikat tanda terimakasih,
            percayalah, akan makin banyak dermawan di dunia ini.
banyak cara untuk hidup senang.. tak perlu jujur, lihat mereka.
        lapar
            dusta
                kenyang
                    lapar
                        diam
                            mati
                        lapar
                    jujur
                lapar                               
                    lapar                       
                        lapar                       
                            mati           
                        muntah                   
                    kenyang
                haram
                    kenyang
                haram
            gampang
        uang
    dusta
lapar
    sekarang aku yang lapar, tak mau aku menggelepar, tepar
    aku ini mahasiswa, bukan gembel seperti mereka
    aku punya ijazah dari sekolah dasar hingga tamat sma, apa guna?
    aku gadaikan saja. demi menghentikan alunan nada ukulele di perutku
    tolol, siapa yang mau menggadai ijazah, tak laku tuk dilelang
    ya! mahasiswa seperti aku tak berbeda dengan pria gembel yang meminta makan kepada tuhan
    lalu,
        kenapa aku tidak berdoa seperti mereka? bukankah sama saja?
    aku menjerit,
    LAPAR!
    lalu kenapa? tunggu sejenak, nanti mati juga
    LAPAR!
    sabarlah, tak akan lama
    LAPAR!
    ya ya, aku tahu
    TOLOL,     membiarkan jalan pikiranku di isi kelaparan,
   
        otakku masih berjalan, otak ku masih benderang,
        aku adalah mahasiswa yang mampu berfikir,
        aku melambangkan masa depan negeri ini!
        tapi aku memang tolol, terbukti aku telah dikuasai oleh lapar
        lapar yang sangat,
        aku tak mampu mengelola uang yang setiap bulannya dicarikan orang tuaku entah bagaimana caranya
    sekarang aku hanya bisa menjerit, lapar!
    tak ada bedanya dengan gembel gembelsuami pelacur yang menjual anaknya
    terdiam aku di kamar kos yang harus dibayar sewanya bulan depan
    dan aku masih harus menahan lapar bulan depan

    KERJA, KERJA, KERJA!
    bergerak saja aku tak bisa, mataku kosong, aku lapar
        aku menjerit,
    LAPAR!
    ya Tuhan, jatuhkanlah dari langit sebongkah daging lengkap dengan semua lalapnya

Hongib Hongib

AYO GELUT!!! AYO GELUT!!!
aku menantang setiap nurani hongib yang demi Allah tega teganya mengorek isi dompetku
menjumput lembar terahirku yang sejujurnya MasyaAllah hendak kugunakan hidup hingga minggu depan
apa salah aku hanya karena jalanan terlalu penuh aku menginjakan ban ban tipisku di marka jalan kekuasaanmu

Ayo Gelut!!
kau seharusnya tahu tak ada celah bagi seorang rakyat seperti aku yang slalu bahagia bila ada pesta resepsi menang melawan tenaga badak penegak undang undang lampu merah
membayangkan terkena tempelengmu mungkin aku akan keluar biaya lebih banyak untuk opname karena mungkin kepalaku akan terlepas dari tempat nongkrongnya
tapi ini soal harga diri bung!
teringat kata seorang teman yang usianya di atasku berkata awakku remuk rapopo sing penting kowe yo loro
andai pria pria gemuk yang gemar duduk duduk baca koran di pos mereka atau pria pria gemuk yang ada di sebrang jalan menunggu pelanggar lalu lintas atau pria pria gemuk yang tertidur di senayan sana tahu
andai pria pria gemuk itu tahu bahwa keadaan ekonomi setiap orang tidak sama
MEREKA PASTI TAHU
hanya tak mahu tahu
MEREKA HARUS TAHU
tak perlu diberi tahu
bagi mereka di tanggal tua tetap bisa makan enak dengan keluarga atau selingkuhan mereka
membayangkan mereka menelan setiap butir nas aking akan sama hasilnya dengan membayangkan melihat surga

Ayo gelut!
hanya dalam teks teks yang ku ketik aku berani menantang berkelahi para hongib itu
membayangkan aku berkata seperti itu tepat di depanmu saja membuatku bangga
aku ingin menjadi pahlawan layaknya robin hood yang berani melawan hongib hongib dan dielu- elukan rakyat
yang diperankan oleh aktor tampan di sinema sinema entah holiwudatau boliwud

ayo gelut!
masih memendam dendam dariku meskitelah bertahun terjadi
menciptakan aku memiliki rasa antipati terhadap polisi
ayo gelut!
andai aku tak bisa mati seperti perompak dalam pirates of carabian jilid pertama aku akan dengan langkah tegap mengencingi setiap posko yang kau tumpangi,
tak peduli saatitu kau sedang bersantai atau menilang
weh weh luweh ayo gelut!
lepas itu sabuk bercenthelkan pistol dan peluit dan handy talkie dan kadang terselip jimat wasiat keselamatan dari dukun-dukun
lepas itu sepatu bersol keras yang paste marem mendarat di tulang tulangku
lepas itu baju kebesaranmu supaya negara ini tidak terlalu tercoreng namanya
lepas itu pelajar pelajar berkantong cekak yang kau tilang karena keberanian mereka mengacuhkan peluit peringatanmu
lepas itu semua dan ayo gelut!
semoga ajian yang kupelajari di suatu padepokan ilmu hitam kelak akan membantuku menyematkanmu di pemakaman yang layak